Kamis, 13 Februari 2020

Review Buku Bunda Sarjana Rumah Tangga

Ketika mendengar judul buku ini, aku langsung tertarik untuk membacanya. Mengapa?

Karena kini aku pun seorang Bunda bergelar Sarjana yang mengurus Rumah Tangga. Sepertinya akan banyak hal-hal yang relate banget dengan aku ketika membaca buku ini.

Aku pun ikutan Give Awaynya dari pengarangnya. Tak kusangka aku memenangkannya. 

Aku pun saat ini sedang mengikuti Reading Challenge One Day One Post. Untuk tantangan pekan pertama dibebaskan untuk membaca buku genre apa pun. Jatuhlah pilihanku untuk membaca buku ini. Ku memang sudah jatuh hati pada pandangan pertama melihat cover dan judul serta taglinenya "Perjuangan Ibu Muda Meraih Gelar Sarjana".


Alur ceritanya mengalir dan membuat pembaca benar-benar dapat merasakan yang dirasakan ibu muda ini. Diceritakan mulai dari saat awal kuliah, hingga terpilih menjadi mahasiswa berprestasi. Namun akhirnya memilih untuk menikah muda disaat belum menjadi sarjana tanpa paksaan dari siapa pun tapi karena memang jodohnya sudah hadir disaat itu.

Seorang pria muda yang juga bertalenta di masa kuliahnya, penuh kesibukan dengan bergabung organisasi kemahasiswaan adalah salah satu kecocokan mereka walau mereka dipertemukan dalam menuju jenjang pernikahan melalui taaruf. 

Singkat kata akhirnya mereka menikah dan tetap berkuliah namun tak lama datanglah buah hati di rahim calon ibu muda ini. Mulai dari situlah perjuangan dan pergolakan batin serta ucapan-ucapan yang mungkin hanya basa-basi tapi terdengar menusuk hati terkait statusnya yang seorang mahasiswi menikah muda lalu sedang berbadan dua. Apakah masih bisa ibu muda ini dengan segala talentanya menjadi seorang sarjana?



Detail perasaan, hal-hal yang dilakukan ketika hamil, bahkan ketika aku membaca detik demi detik proses melahirkan buah hatinya benar-benar membuatku merasa berada disana dan menyaksikannya. Sangat dalam dan jelas.

Begitu pula perjuangannya ketika menyelesaikan kembali skripsinya yang sempat tertunda kareba kehadiran buah hati juga penuh dengan tantangan. Baik tantangan eksternal (dosen pembimbing), internal (galau apakah mampu), dan komitmen tetap menyusui anak serta tantangan lainnya. 

Bacaan buku ini pas sekali untuk ibu-ibu muda yang menikah muda dan ingin melanjutkan sekolah kembali dan meraih gelar walau sudah mempunyai anak. Walau akhirnya jika gelar tersebut tidak digunakan untuk bekerja kantoran, namun pendidikan tinggi itu penting dan perlu untuk seorang ibu karena ibulah yang pertama akan mendidik anak-anaknya.

Raihlah gelar setinggi langit bukan karena untuk dirimu namun untuk anak-anakmu. Karena belajar itu sepanjang masa dan menjadi suri teladan untuk anakmu. 

Aku setelah membaca buku ini terpompa kembali semangatku yang sempat memadam untuk meraih gelar master. Semoga diberikan jalan, kesempatan dan dimampukan oleh Tuhan.

Salah satu quote yang paling aku suka yang ada di dalam buku ini adalah :

  
Oh ya, buku ini bisa diperoleh langsung dari pengarangnya, mampir saja ke IG@visyabiru_.

Jumat, 03 Januari 2020

Narasi dari Papua, Sebuah Sumbangsih Freeport Indonesia kepada Masyarakat Papua

Siapa yang tak kenal dengan PT. Freeport Indonesia. Hampir semua orang mengetahui tentang perusahaan tambang besar di bumi papua Indonesia ini. PT Freeport Indonesia merupakan salah satu perusahaan tambang terkemuka di dunia yang melalukan eksplorasi, menambang, dan memproses bijih yang mengandung tembaga, emas, dan perak di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, Indonesia. 

Walau hampir semua orang mengetahui PT Freeport Indonesia, namun belum tentu mengetahui tentang kontribusi Freeport baik kepada masyarakat langsung di sekitar lokasi tambang atau pun kontribusi dalam rangka meminimalisir dampaknya terhadap lingkungan. 

Berdasarkan sifatnya, kegiatan pertambangan bagaimanapun akan memberikan dampak terhadap lingkungan. Tapi Freeport Indonesia telah melakukan sesuatu untuk mengurangi dampak tersebut dan memastikan dampak tersebut tidak berlangsung dalam jangka waktu lama. Untuk itu Freeport Indonesia berkomitmen untuk melakukan identifikasi, memahami, membuat strategi dan berupaya mengurangi dampak lingkungan dari setiap kegiatan yang  dilakukan.

Melalui pertambangan yang ramah lingkungan dan bertanggungjawab dipastikan dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang signifikan serta meningkatkan standar hidup bagi generasi yang ada dan masa depan secara berkelanjutan.

Kontribusi Freeport untuk masyarakat antara lain diwujudkan dengan adanya program pengembangan masyarakat yang juga merupakan salah satu bagian dari berbagai macam inisiatif-inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan. PT Freeport Indonesia (PTFI) berjuang untuk menerapkan program pengembangan masyarakat yang memiliki dasar bisnis yang kuat dan konsisten dengan standar-standar pengembangan masyarakat tingkat dunia. 

Kontribusi Freeport untuk masyarakat yang telah dilakukan khususnya dalam peningkatan kapasitas masyarakat antara lain:

Pendidikan & Pelatihan

Sumber : https://ptfi.co.id/id/community-capacity-building
Adanya angka partisipasi sekolah yang  rendah disebabkan oleh terbatasnya akses dan fasilitas pendidikan bagi masyarakat di Kabupaten Mimika serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Maka PTFI dan Biro Pendidikan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro  (LPMAK) melakukan program pengembangan masyarakat dalam bidang pendidikan untuk membuka akses seluas-luasnya kepada putra-putri daerah untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam implementasinya, PTFI dan Biro Pendidikan  LPMAK bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Lembaga Pendidikan, Konsultan Pendidikan, dan mitra-mitra lainnya.

PTFI dan LPMAK sejak tahun 1996 hingga tahun 2018 telah memfasilitasi 11.000 siswa dalam program beasiswa mulai dari tingkat SD sampai dengan S3 dan secara rutin melakukan monitoring langsung ke sekolah-sekolah dimana para penerima beasiswa tersebut menempuh pendidikannya.

Dalam mendukung peningkatan kualitas bagi siswa-siswi dari daerah terpencil, maka PTFI dan LPMAK bekerjasama dengan Yayasan Pesat dan Keuskupan Timika dalam pengelolaan 5 asrama putra dan putri di Mimika dan dengan Yayasan Binterbusih di Jawa Tengah. Penerapan pendidikan berpola asrama ini bertujuan untuk menanamkan sikap disiplin bagi siswa-siswi agar mereka memiliki kemandirian dan memiliki pola hidup teratur.

Bekerjasama dengan pihak ke-tiga dalam penyelenggaraan pelatihan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) bagi para guru di Kabupaten Mimika untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme para guru dalam pengajaran mata pelajaran khusus serta memberi dukungan bagi para guru yang ditugaskan di daerah terpencil.

PTFI juga membangun sebuah Institut Pertambangan untuk melatih putra dan putri asli Papua agar trampil menjadi pekerja tambang kelas dunia yang siap bersaing di dunia industri pertambangan.


Pemberdayaan Perempuan

PTFI melalui Koperasi Aitomona sejak tahun 2008 memberdayaan perempuan Papua dan memberikan ketrampilan bagi ibu rumah tangga sehingga dapat berperan dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Lewat berbagai pelatihan seperti mengelola keuangan keluarga, menjahit sampai dengan membuat makanan dari bahan lokal diajarkan agar dapat tercipta industri skala rumah tangga di masa yang akan datang.
Sumber : https://ptfi.co.id/id/community-capacity-building

Peningkatan Kapasitas Lembaga

PTFI terus berusaha dan mendukung lembaga-lembaga yang menjadi representatif masyarakat lokal dalam meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas pengelolaan dana program pengembangan masyarakat dari PTFI. Lembaga-lembaga yang menerima dana program pengembangan masyarakat adalah LPMAK, Yayasan Tuarek Natkime, Yayasan Waartsing, Yayasan Yu-Amako, Yayasan Hak Asasi Manusia dan Anti Kekerasan (YAHAMAK) dan Forum MoU 2000.

Sumbangsih bagi negeri yang telah dilakukan oleh PT Freeport Indonesia cukup banyak ternyata ya, seperti yang telah disampaikan diatas, mulai dari peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan, dan pelatihan serta pemberdayaan perempuan dan juga peningkatan kapasitas lembaga. 

Sedangkan untuk sumbangsih bagi negeri secara finansial dan persentase dapat dilhat pada infografis dibawah ini.


Sumber : https://ptfi.co.id/id/community-capacity-building


Ternyata kontribusi finansial Freeport Indonesia tidak main-main ya jumlahnya termasuk dalam jumlah penciptaan lapangan kerjanya. 

Jika dulu hanya mengetahui tentang Freeport Indonesia sebatas perusahaan yang menambang emas dan tembaga di papua, setelah membaca narasi dari papua di atas tentunya menjadi lebih paham akan kontribusi nyata yang telah dilakukan baik kepada masyarakat atau pun dalam meminimalisir dampak lingkungan serta kontribusi finansial Freeport Indonesia terhadap negeri Indoneia ini. 

Masih ingin tau tentang kontribusi lainnya secara detail, silahkan dapat mampir ke  https://ptfi.co.id/. Sukses selalu untuk Freeport Indonesia, tetaplah berkontribusi dan memberikan sumbangsih kepada negeri.

Selasa, 31 Desember 2019

Roma 96-180 Masehi

Roma 96-180 Masehi,

Pemerintahan 'Antonines' - Nerva, Trajan, Hadrian, Antonius dan Marcus Aurelius membawa Kekaisaran Roma berada pada puncaknya pada tahun 96 - 180 Masehi. Kota-kota di Roma menjadi kota terbesar dan tercanggih. Kota-kota nan indah di Roma memiliki dua jalan utama dengan banyak jalan-jalan kecil berjarak yang disebut insulae (pulau). Insulae dipenuhi dengan rumah-rumah mewah yang dimiliki oleh orang kaya Roma yang disebut dengan domi. Halaman yang luas terhampar di tiap-tiap domi ini. Domi adalah rumah dua lantai yang nyaman, dengan kolam air hangat dengan pemanas bawah lantainya.

Kota yang tertata rapi, hingga macet pun adalah hal yang biasa. Sehingga ada larangan kendaraan beroda memasuki kota di siang hari. Di sisi kanan dan kiri jalan, banyak ditemui toko, penginapan (tabarnae), kafe (thermopilia), dan toko roti (pistrina). 

Rumah-rumah mandi (thermae) juga sering dikunjungi orang-orang, dimana mereka dapat duduk dan berendam di dalam air panas dan dingin sambil menikmati pemandangan sekitar yang indah. Kota ini mempunyai persediaan air dan sistem pembuangan yang bagus. Bangsa Roma adalah bangsa yang sangat bersih dan selalu pergi ke pemandian umum atau mandi di rumah.

Bangsawan Roma memiliki gaya hidup yang nyaman. Memulai harinya dengan makan pagi roti atau gandum. Lalu makan siang (prandium) yang menunya kurang lebih sama dengan makan pagi. Lalu di sore hari mengadakan cena atau makanan utama, setelah mengunjungi pemandian. Acara ini dapat menjadi mewag dengan 3 menu utama, dimana setiap menu tersaji dengan berbagai hidangan. 

Terdapat pula sebuah tempat pertunjukan terbuka yang besar. Selain itu ada juga arena permainan atau stadion (amphitheatre) tempat para prajurit yang disebut gladiatior bertarung dan perlombaan kereta perang diadakan. Gladiator adalah para tawanan atau terpidana yang dipaksa bertarung dalam sebuah arena untuk menghibur masyarakat. 

Hiburan untuk umum ini disebut ludi (permainan), termasuk didalamnya pertunjukan drama, balap kereta perang dan pertarungan gladiator melawan binatang atau dengan sesamanya. 

Ada juga forum yang merupakan sebuah pasar terbuka yang besar dan tempat pertemuan yang pada ketiga sisinya dikelilingi oleh trotoar tertutup untuk berjalan. Sedangkan sisi keempat adalah pengadilan dan balai kota (basilica). 

               sumber : www.pxhere.com

Kuil-kuil besar dan megah terbangun di sudut kota untuk memuja dewa-dewi Bangsa Roma. Dewa - dewi Bangsa Roma identik dengan dewa-dewi Bangsa Yunani, seperti Dewi Venus yang meniru Dewi Aphrodite Sang Dewi Cinta dari Bangsa Yunani. Lalu ada juga Dewa Mercury yang meniru Dewa Hermes Sang Pembawa Berita dengan kaki bersayap. 

             sumber : www.pxhere.com

Berdasarkan legenda, Roma didirikan pada 753 Sebelum Masehi oleh si kembar Romus dan Romulus, yang konon dibesarkn oleh serigala. Pada tahun 550 SM, Roma adalah sebuh kota besar yang diperintah oleh Raja Bangsa Etruscan. Lalu pada tahun 509 SM, masyarakat Roma mengusir sang raja dan menjadi sebuah republik yang merdeka. Repubik Roma diperintah oleh Senat yang merupakan sebuah dewan terdiri dari 100 tetua (laki-laki dari keluarga berada dan terkenal). Menurut teori, Roma diperintah oleh masyarakatnya, namun kekuatan sesungguhnya berada di tangan para tetua, rakyat jelata hanya memiliki sedikit kekuasaan bahkan para budak tidak mempunyai kekuasaan dan hak sama sekali. 

           sumber : www.wikipedia.com

Budak banyak dipekerjakan, termasuk para tawanan perang yang dipaksa untuk bekerja. Satu dari 3 orang bangsa Roma biasanya memiliki seorang budak. Bangsa Roma memiliki banyak budak dibanding dengan kekaisaran lain. Banyak di antaranya diperlakukan dengan kejam namun beberapa hidup berkecukupan. Bangsawan Roma mmiliki banyak waktu luang, karena budak mengerjakan semua pekerjaan. Aktivitas di waktu luang antara lain berjudi dengan melempar koin (capita et navia) dan tulang buku jari (tali). 


Saat kekaisaran Roma meluas, bermunculan bermacam perkebunan yang dikerjakan oleh para budak. Hal ini membuat para rakyat jelata atau petani kecil kehilangan pekerjaan dan jarak antara si Kaya dan si Miskin semakin melebar. Banyak penduduk yang bergabung menjadi prajurit untuk melepaskan diri dari kemiskinan dan menjadi lebih setia kepada Jendralnya daripada kepada Senat. 


Kekuasaan Roma sangat bergantung pada pasukannya yang sangat efisien. Dalam situs krisis, Roma dapat mengumpulkan pasukan yang terdiri dari 800.000 prajurit. Pasukan Roma biasanya berperang dengan berjalan kak, bergerak dalam sebuah persegi rapat siap untuk berperang menggunakan tombak dan dilindungi oleh tameng besar yang disebut scutari. Mereka juga selalu memakai pelindung pada kepala mereka untuk melindungi dari panah. Formasi ini disebut testudo atau kura-kura. 


Pasukan Roma dibagi menjadi beberapa legiun dimana setiap legiunnya berisi 5000 prajurit. Setiap legiun terdiri dari 10 kelompok. Tiap kelompok terdiri atas centuri yang berisi 80-100 prajurit. Pemimpin legiun adalah legatus. Pemimpin kelompok adalah tribunus militum. Sebuah centuri dipimpin oleh seorang centurion. Sebagian besar para prajurit selain rakyat jelata juga para profesional yang bergabung ke dalam ketentaraan untuk seumur hidup. Makanan adalah sepertiga dari gaji mereka. 


Seluruh prajurit Bangsa Roma memiliki sebuah pedang pendek (60cm) dan membawa dua tombak lempar. Mereka jua mengenakan baju besi pertama, rompi dari anyaman rantai dan sebuah helm kulit dengan lempengan logam diatas jubah kulit dan sebuah helm logam. Pasukan Bangsa Roma membangun alat pengepung raksasa dan pelontar yang disebut balistas saat akan merebut sebuah kota. 


Pada saat berlatih, prajurit dipaksa berbaris sepanjang 30 km 3x dalam 1 bulan. Prajurit bergerak dalam kecepatan 8 km/jam, dengan membawa beban yang sangat berat. Prajurit Roma yang tangguh berjalan membawa seluruh senjata dan baju besinya, ditambah sebuah bungkusan yang penuh dengan pakaian, makanan dan peralatan untuk menggali dan membangun. 


Pria rakyat jelata tak ada pilihan lain dalam rangka lepas dari kemiskinan, satu-satunya cara adalah dengan bergabung menjadi prajurit. ⅔ dari gaji yang didapatkannya dapat digunakan untuk nafkah keluarganya. Dan jika dapat meniti karir dalam keprajuritan ini, maka bukan hal yang mustahil pria rakyat jelata dapat menjadi seorang legatus.


Roma 90 Sebelum Masehi,


Terdapat seorang budak bernama Spartacus, yang ahli dalam berpedang dan sangat ingin menghapuskan sistem perbudakan di Bumi Roma ini. Dia sudah amat lelah melihat budak diperlakukan semena-mena oleh para bangsawan Roma. Salah siapakah jika seorang lahir bukan dari rahim seorang ibu bangsawan namun hanya dari seorang rakyat jelata. 


Para pria dan anak laki-laki bergabung menjadi prajurit hanya supaya dapat lepas dari kemiskinan yang melilit. Para wanita dan anak perempuan menjadi para pelayan Bangsawan Roma di domi-domi nan megah. Sedangkan mereka sendiri hanya menikmati hari bermalasa-malasan berendam di pemandian, serta berjudi sembari menonton para gladiator meregang nyawa di arena amphitheatre / colloseum dibantai oleh binatang buas atau bertarung hingga salah satu mati diantara sesama gladiator yang diadu. 


Spartacus akhirnya memimpin pemberontaan budak. Berjuang tak kenal lelah hingga 2 tahun lamanya. Waktu yang tidak singkat bagi seorang budak yang dapat membuat Kekaisaran Roma pun jengah dan memburunya. Seorang budak bersama teman-temannya berani melawan Kekaisaran Roma, sungguh suatu keberanian, seorang pahlawan yang tidak ada duanya. Keluarganya pun akhirnya turut dibantai oleh para prajurit Roma. Walau akhirnya gugur dilibas oleh prajurit Kekaisaran Roma.






Senin, 30 Desember 2019

Ibu sebagai Pondasi dan Tiang Peradaban

Bunda, taukah Anda, bahwa ibu adalah pondasi dan tiang suatu peradaban? Peradaban manusia berasal dari suatu kelompok manusia, baik itu negara, lalu lebih kecil lagi masyarakat, dimana bagian yang terkecilnya adalah keluarga.

              sumber : www.pixabay.com

Peran Ibu dalam suatu keluarga tidaklah main-main. Sangat penting dan merupakan jiwa dan roh dari sebuah keluarga. Seorang ibulah yang mengantarkan jiwa murni dari anak ke dunia yang kelak menjadi anggota keluarga. Seorang ibulah yang mendidik dan menyayangi serta menutrisi makanan bergizi (ASI) pertama kali kepada sang bayi, calon penerus keluarga, masyarakat, bangsa negara dan peradaban manusia selanjutnya. 

Jangan biarkan anak-anak lepas dan kekurangan kasih sayang, didikan serta nutrisi dari ibundanya. Akibatnya sangat fatal untuk peradaban manusia generasi selanjutnya. Seorang ibu akan berusaha selalu memberikan yang terbaik untuk anandanya dalam segala hal termasuk kasih sayang, pendidikan akhlak/budi pekerti dan pelajaran, nutrisi bergizi, materi dan lain-lain. 

Oleh karena itu bunda, dirimu adalah pusat dunia anakmu saat bayi hingga balita menjelang remaja. Bersamailah mereka semampu dan sebanyak waktu yang bisa Bunda berikan. Hujanilah mereka dengan kasih sayangmu. Didiklah mereka dengan lembut namun tegas. Berilah nutrisi bergizi sepanjang masa pertumbuhannya. Manjakanlah secukupnya dengan materi duniawi. Asahlah empati dan rasa saling tolong menolong terhadap sesamanya khususnya orang yang dituakan atau pun yang kurang beruntung. Dekatkanlah dan kenalkanlah ananda kepada Tuhan pencipta alam raya ini. Kuatkanlah iman kepada Sang Pencipta Kehidupan ini.

Jika semua ibunda di seluruh dunia sadar akan perannya sebagai tiang dan pondasi sebuah peradaban, maka niscaya generasi peradaban mendatang akan lebih baik atau setidaknya minimal sama dengan generasi peradaban kita saat ini, tidak lebih buruk.

Selamat datang generasi mendatang, para ibu akan berjuang sekuat tenaga mengantarkan anak-anaknya tercinta menjadi bagian dari peradaban mendatang yang lebih baik lagi. 

#perempuanmenulis bahagia

Tulisan ini diikutsertakan dalam Blog Challange Indscript

Sabtu, 28 Desember 2019

Kapan Wanita Produktif dan Berkarya?

Seorang perempuan lahir dari rahim seorang ibu. Seorang anak perempuan kelak akan menikah sehingga menjadi seorang istri. Lalu menjadi seorang ibu ketika mempunyai anak. Terakhir menjadi seorang mertua serta nenek. Fitrahnya adalah seperti itu.

             sumber : www.pixabay.com

Seorang perempuan yang menjadi produktif dan berkarya tidak serta merta hanya dilihat dari nominal uang yang dihasilkan dari karya dan produktivitasnya. Namun karya dan produktivitas seorang perempuan, istri, ibu, mertua dan nenek itu dirasakan oleh suami, anak, menantu dan cucu-cucu mereka.

Jangan terbelenggu dengan suatu karya dan produktivitas perempuan harus menghasilkan nominal tertentu, jangan. Tapi lihatlah karya dan produktivitas perempuan saat menata rumah tangganya, mendidik anak-anaknya, menjadi sahabat suaminya, menemani cucu-cucunya bermain serta menjadi ibu bagi menantunya. Semua itu termasuk karya yang tak ternilai dalam rupiah. 

Jadi janganlah berkecil hati jika karya dan produktivitas kita hanya sebatas "rumah tangga". Kelak pada saatnya tiba karya dan produktivitas perempuan di dalam rumah tangga akan memetik hasil yang manis yang jauh nilainya dari materi semata. 

Namun sebagai wanita pun juga seorang manusia yang memiliki kebutuhan akan aktualisasi diri. Yang terkadang ranah rumah tangga tidak cukup sebagai aktualisasi diri ini. Oleh karena itu wanita juga membutuhkan arena lain sebagai sarana aktualisasi diri, tanpa meninggalkan kewajiban utamanya mengurus keluarga. 

Berkaryalah dan berproduktiflah sebagai sarana aktualisasi diri di berbagai arena sesuai dengan bakat dan kelebihan serta kemampuannya masing-masing. Temukan bakat anda, passion anda. Sesuatu yang senang anda lakukan walau tidak dibayar sekali pun. Sesuatu yang membuat mata ini berbinar-binar dan bersemangat saat membicarakannya dan melakukannya. Rasa lelah dan bosan tak pernah datang. Bahagia rasanya ketika melakukannya. Lupa waktu dan dunia sekitarnya jika sudah asyik melakukannya. Dan bakat itu bisa berbagai hal. Passion pun bermacam-macam.

Apakah anda sudah menemukannya? 

#perempuanmenulisbahagia

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'.

Kamis, 26 Desember 2019

"Me Time" itu Wajib Hukumnya Bagi Semua Ibu. Mengapa?

Aku dulu seorang single lady yang gemar bekerja (workaholic). Kebiasaan ini pun terbawa hingga ketika aku menikah bahkan saat aku sudah memiliki anak. Lalu kemudian tidak lama setelah kelahiran anakku yang kedua, aku pun memilih untuk menjadi seorang ibu rumah tangga saja. 

               sumber : www.pixabay.com

Saat ketika masih bekerja khususnya ketika masih single, "Me Time" itu dengan mudahnya dapat kulakukan. Aku bebas melakukan yang aku senangi, hobbyku, bepergian kesana kemari diluar jam kantor pastinya. Bahkan terkadang saat berada di kantor pun itu bisa menjadi saat "Me Time" aku. Karena aku senang dengan yang pekerjaan yang aku lakukan di kantor plus dapat gaji lagi. Saat makan siang pun juga dapat dikatakan "Me Time" aku, karena bertemu dan bercengkerama dengan teman-teman. 

Lalu aku pun menikah dan mempunyai anak sambil tetap bekerja. Wow, mengatur waktu, fokus dan pikiran serta rasa itu supaya semua tanggung jawab yang aku emban sebagai seorang ibu, istri, wanita karir dapat terselesaikan dengan baik dan optimal itu sangat menantang. "Me Time" yang dulu dengan mudahnya dapat kulakukan, ketika itu sangat sulit. Bahkan rasanya 24 jam sehari itu tidak cukup untuk dapat melaksanakan semua kewajiban dari ketiga peranku itu. Lambat laun, aku pun lupa kapan terakhir "Me Time" untuk diriku sendiri.

Hingga saat aku menjadi Ibu Rumah Tangga, "Me Time" semakin sulit kuraih. Waktuku menjadi 24 jam untuk anak dan suami. Lambat laun rasa lelah mulai menggelayuti dan datang tanpa diundang. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, sangat tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga. Emosi menjadi tidak stabil, yang pada akhirnya nanti anak-anak juga yang terkena akibatnya (mendapat omelan-omelan yang tidak perlu). Recharge itu penting ketika tubuh sudah memberikan sinyal bahwa butuh refreshing, butuh time break sejenak. 

Sinyalnya seperti apa?

Tubuh mulai sakit-sakitan, entah flu atau maag atau pusing, intinya daya tahan tubuh menurun sehingga rentan terkena penyakit.

Semangat mulai menurun, cepat lelah, emosi menjadi tidak stabil (marah-marah saja maunya), sensitif, kesal dan lainnya.

Kalau sudah ada sinyal seperti ini, wajib hukumnya seorang ibu itu "Me Time". Gak perlu lama kok 1-3 jam saja cukup, melakukan hal yang disenangi sendirian atau bersama teman (tanpa anak atau suami). Bisa membaca bagi yang hobbynya membaca, atau menulis, melukis, berenang, jalan-jalan di mall, nonton drama korea, atau tidur. Apa pun yang bunda senang lakukan, yang setidaknya mengalihkan sejenak dari dunia mengurus anak dan suami. 

Mintalah bantuan suami ketika bunda sudah benar-benar membutuhkan "Me Time". Atau bantuan orang tua atau mertua untuk dititipi anak sejenak (1-3 jam). 

Jika tidak ada yang dapat membantu, misal karena merantau atau pun Long Distance Marriage carilah daycare terdekat dan terpercaya dimana bunda dapat melepas anak bunda sejenak dengan rasa aman dan anak-anak pun senang.

Seorang ibu bukanlah superhero wonder woman yang serba bisa, serba sempurna, menjaga dunia setiap waktu tanpa kenal istirahat atah hari libur. 

Seorang ibu tetaplah seorang manusia biasa yang membutuhkan waktu untuk mengurus dirinya sendiri, tidak melulu mengurus di luar dirinya walau itu adalah keluarganya sendiri. Jika ibu tidak bahagia karena tidak sempat mengurus dirinya sendiri dan memupuk kepercayaan dirinya, bagaimana bisa dapat mengurus keluarga dengan benar dan sukacita yang dapat menghasilkan anak-anak yang cerdas serta bahagia? 

Remember Mommy, you deserve to be happy and have me time for your own. Eventhough you are a mom and a wife, you are still and always be a woman (a human being).

Jadi jangan lupa Me Time ya mommy dan lakukanlah secara rutin, jangan tunggu lelah jiwa raga.

Last but not least, 
Have Me Time and Be Happy :)

#perempuanmenulisbahagia

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'.



Ingin Anak Cerdas? Ibunya Bahagia Dulu Ya.

Mempunyai anak-anak yang cerdas adalah impian semua ibu di dunia ini. Anak-anak yang cerdas, sukses, bahagia, riang gembira dan sehat, sesederhana itulah mimpi semua ibu untuk anak-anaknya. Namun untuk meraih mimpi itu apakah sulit? 

              sumber : www.pixabay.com

Sebelum kita memulai mimpi untuk anak kita, cobalah bertanya apakah mimpi untuk diri sendiri sudah tercapai? Apakah kita sudah menjadi ibu yang cerdas, sukses, bahagia, riang gembira dan sehat lahir batin? 

Anak adalah peniru ulung. Jika melihat ibundanya bahagia maka ia pun dapat meniru dengan hebatnya menjadi anak yang bahagia. Anak mengikuti apa yang dilihat dan dicontohkan oleh ibunya dalam hidup ini. Bundanya adalah segalanya bagi ananda di usia-usia awal kehidupannya. Segala emosi ibunda akan tersalurkan dan terasa oleh si buah hati. 

Seorang ibu yang bahagia akan dengan mudahnya menyebarkan emosi positif pada anak-anaknya secara otomatis. Mengharapkan anak menjadi cerdas maka jadilah ibu yang cerdas juga yang senantiasa semangat belajar dalam hal apa pun khususnya dalam hal menjadi seorang ibu yang baik dan benar untuk ananda (ilmu parenting). Senantiasa ingatlah bahwa anak sejatinya adalah seorang peniru ulung. Maka paparkanlah contoh nilai-nilai luhur kehidupan yang baik, niscaya ananda akan menirunya tanpa disadarinya.

Namun menjadi ibu yang bahagia apakah sulit? Tentu saja tidak. Semua berpulang kepada kesadaran diri untuk berbahagia. Karena bahagia itu adalah pilihan. Bahagia itu adalah pilihan reaksi atas segala kejadian yang datang pada kehidupan kita. Maka ajarilah ananda menjadi cerdas hati, jiwa dan raga dengan memberikan contoh nyata dalam berbahagia ketika memberikan reaksi atas semua kejadian yang datang pada kehidupan kita. Niscaya ananda pun akan memilih untuk bereaksi bahagia ketika berbagai macam kejadian datang pada kehidupannya.

Menurut buku yang berjudul "100 Cara gar Anak Bahagia", yang ditulis oleh Dr. Timothy. 2 bab awal membahas tentang bagaiman menjadi bahagia terlebih dahulu untuk diri sendiru baru kemudian dapat membahagiakan ananda. 

So mommy, first let's be happy, then all fyour dream for your children can be fulfilled automatically. 

When you are happy and smart, your children will see and learn how to be happy and smart just like you. 

#perempuanmenulisbahagia

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing 'Perempuan Menulis Bahagia'.

Review Buku Bunda Sarjana Rumah Tangga

Ketika mendengar judul buku ini, aku langsung tertarik untuk membacanya. Mengapa? Karena kini aku pun seorang Bunda bergelar Sarjana ...